Bedah Buku Hikayat Pohon Ganja Sukses di Universitas Hasanuddin Makassar
Lingkar Ganja Nusantara hadir di kota Makassar dalam acara Bedah Buku Hikayat Pohon Ganja (HPG) dengan tema, “Ganja, Berkah atau Musibah”. Acara bedah buku ini diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Manajemen (IMMAJ) Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan. Bedah buku HPG digelar di halaman depan sekretariat IMMAJ (outdoor) dengan hamparan rumput hijau yang membentang pada malam minggu tanggal 15 September 2012. Acara bedah buku HPG dibuka dengan iringan musik akustik dari sebuah grup band persembahan LGN Makassar.
Bedah buku dimulai tepat jam 7 malam dengan iringan musik akustik sebagai pembuka acara. Dhira Narayana, sang penulis buku Hikayat Pohon Ganja langsung berdiri di depan para mahasiswa dan bercerita tentang sejarah penggunaan tanaman ganja 12.000 tahun yang lalu sampai akhirnya terjadi pelarangan ganja yang disepakati Indonesia bersama negara-negara berkembang lainnya tanpa adanya perdebatan publik melalui Konvensi Tunggal PBB 1961 (United Nation Single Convention on Drugs 1961). Kemudian negara Republik Indonesia meratifikasi konvensi tunggal PBB tersebut dan lahirlah UU Narkotika 1976, UU Narkotika 1997 sampai ke UU Narkotika 2009 di Indonesia yang tujuannya untuk menghukum dan memenjarakan anak bangsa selama bertahun-tahun hanya karena mengkonsumsi ganja, bahkan untuk penggunaan ganja dalam jumlah yang sangat kecil.
Dhira menjelaskan semua hal mengenai pohon ganja dengan menggunakan slide projector dan pemutaran film pendek yang menguraikan bagaimana zat yang terkandung di dalam tanaman ganja (Tetra Hydro Cannabinol) dalam melawan kanker dan penyakit lainnya. Demikian juga penjelasan mengenai keunggulan serat ganja (hemp) dan penggunaan ganja untuk kebutuhan rekreasi yang sering mendapat komentar negatif dari masyarakat, Dhira menjelaskannya secara gamblang dalam bedah buku malam itu. Dhira mengatakan, “Pemerintah dengan kampanye anti narkoba-nya telah memberikan informasi bohong mengenai tanaman ganja kepada masyarakat, hal ini sangat berbeda dengan informasi objectif yang tertulis didalam buku HPG yang isinya merupakan kumpulan hasil studi ilmiah dari negara-negara maju yang akan membuka semua kebohongan publik mengenai bahaya penggunaan ganja yang selama ini terjadi di Indonesia”.
LGN sebagai sebuah organisasi yang mengusung wacana legalisasi ganja juga dibahas dalam diskusi bedah buku HPG. Sebagai sebuah organisasi yang memperjuangkan pemanfaatan tanaman ganja, Dhira menceritakan semua upaya yang telah dilakukan LGN dalam mencapai visi dan misi-nya dengan menunjukkan foto-foto aksi Global Marijuana March 2012 dan audiensi LGN – Kemenkes RI.
Para mahasiswa yang hadir sangat antusias mengikuti jalannya acara. Beberapa dari mereka melontarkan banyak pertanyaan yang membuat acara semakin seru. Seorang mahasiswa bertanya, “Bagaimana cara kami mendukung perjuangan ini?” Dhira menjawab, “Dengan menyusun skripsi mengenai tanaman ganja, kalian telah ikut memperjuangkan pemanfaatan tanaman ganja. Sebagai mahasiswa kalian harus berani melawan dosen yang melarang kalian untuk menulis karya ilmiah tentang ganja.” Selain itu, Dhira juga mengungkapkan kepada mahasiswa dari mana LGN bisa hidup, yaitu dari penjualan Merchandise. Dalam menggalang dana untuk membiayai pergerakan, LGN menjual t-shirt, topi, buku dan merchandise lainnya yang bertuliskan informasi mengenai pohon ganja. PT Gramedia sebagai penerbit buku HPG turut ambil bagian dalam acara ini dengan membuka counter penjualan buku HPG.
Hikayat Pohon Ganja 12.000 Tahun Menyuburkan Peradaban Manusia yang tertulis di halaman depan buku HPG menjadi wacana menarik diantara mahasiswa. Para mahasiswa umumnya baru mengetahui bahwa ternyata selama ribuan tahun yang lalu ganja telah lama digunakan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Setelah acara selesai, beberapa mahasiswa UNHAS dari fakultas kedokteran mengatakan tertarik untuk menggelar acara serupa. Mereka mengharapkan kehadiran LGN untuk kembali lagi ke Makassar dalam diskusi mengenai potensi medis pada tanaman ganja.
Menurut ketua IMMAJ yang bernama Rahmat atau lebih akrab dengan panggilan Mamet, acara sengaja digelar diluar ruangan terbuka supaya lebih banyak mahasiswa yang datang. Dengan konsep ruang terbuka di tengah halaman rumput hijau, suasana bedah buku menjadi lebih akrab dan ramai dihadiri para mahasiswa dari berbagai fakultas. Jumlah mahasiswa yang hadir cukup banyak, kira-kira lebih dari 200 mahasiswa memenuhi tempat penyeleggaraan acara. Konsep seperti ini mengesankan suasana di Rumah Hijau LGN, kantor sekretariat Lingkar Ganja Nusantara yang terletak di lapangan rumput hijau Pulau Situ Gintung.
Setelah acara selesai, mahasiswa berfoto bersama LGN Makassar dan LGN Pusat sebagai dokumentasi dan kenang-kenangan. Bedah buku HPG di Kota Daeng menjadi sebuah pengalaman yang tak terlupakan bagi kami pengurus pusat Lingkar Ganja Nusantara. (cpt)
Foto: Ri Rie














