Demonstran Protes Pelarangan Ganja Bagi Turis di Belanda
Demonstran di Maastricht memprotes kebijakan baru yang mengharuskan Coffeshop Belanda untuk melarang orang asing membeli dan mengkonsumsi ganja pada tanggal 1 Mei 2012.
Dalam kegiatan demonstrasi, para turis merokok ganja di jalanan di Belanda dan menantang pemilik Coffeshop untuk menjual ganja ke mereka. Kebijakan ini melarang pemilik Coffeshop menjual ganja ke turis yang datang ke Belanda dan akan berlaku mulai hari Selasa tgl. 1 Mei 2012.

Para pengunjuk rasa di Maastricht – dekat perbatasan Belgia – menggelar spanduk dengan gambar daun ganja dan slogan-slogan seperti “Dicari Bandar Narkoba” dan “Hentikan Diskriminasi Ganja di Belgia,” demikian dilaporkan Svebor Kranjc dan Thomas Escritt dari Reuters.
Ratusan demonstran berkumpul di alun-alun utama, dengan sekitar 50 dari mereka secara terbuka menghisap ganja sambil membawa satu linting ganja raksasa (tiruan) berukuran enam kaki-panjang.
Undang-undang baru tersebut membalikkan kebijakan tradisional Belanda yang selama ini memberikan toleransi kepada masyarakat untuk menggunakan ganja secara legal yang selama ini telah membuat booming “pariwisata ganja” di negeri Belanda. Coffeshop di Belanda menjadi tujuan utama mayoritas turis karena ketersediaan ganja yang mudah dan berkualitas.
Mulai hari Selasa, kafe-kafe di tiga provinsi Belanda selatan dekat perbatasan Jerman dan Belgia secara resmi hanya diperbolehkan untuk menjual ganja kepada anggota yang terdaftar dan harus warga negara Belanda. Pihak berwenang mengklaim langkah seperti itu, entah bagaimana, akan secara ajaib “mengurangi tindak kejahatan.”
“Sekarang kita tidak bisa masuk lagi, keterlaluan, ini sama dengan diskriminasi,” kata seorang turis dar Belgia kepada Reuters.
Walikota Maastricht, Onno Hoes, membuat sebuah petisi yang ditandatangani oleh sekitar 300 pemilik Coffeshop dan pengusaha lainnya yang isinya meminta pemerintah untuk segera mengakhiri larangan ini.
Coffeshop bernama “Easy Going” di Maastricht menutup pintunya bagi semua pelanggan yang protes sambil mengatakan bahwa polisi seharusnya menangani perdagangan gelap ganja, bukan malah melarang penjual resmi.
Dalam beberapa pekan terakhir, dealer dari utara Perancis, Belgia dan Eropa Timur telah mulai melakukan perdagangan mereka di jalanan sebagai bentuk protes, menurut Marc Josemans, yang mengepalai asosiasi Coffeshop di Maastricht.
“Sekarang ini benar-benar baru untuk Maastricht, kami tidak pernah punya masalah ini, jadi sebenarnya kita sedang menciptakan lebih banyak masalah daripada memecahkan kita,” kata Josemans.
Larangan baru pada orang asing di kedai kopi diperkenalkan pada bulan Januari dan pertama akan diberlakukan di provinsi-provinsi di sebelah selatan sebelum diberlakukan secara nasional termasuk di lokasi tujuan wisata di seluruh dunia Amsterdam – tahun depan.
Coffeshop akan dibatasi maksimal 2.000 anggota terdaftar, yang harus memiliki domisili lokal.
Politisi mengklaim tindakan itu diperlukan untuk membasmi kejahatan “yang berkaitan dengan perdagangan obat” dan untuk “membatasi konsumsi ganja,” tapi tidak ada seorangpun yang percaya itu. Efek yang sebenarnya justru akan membuat permasalahan “kejahatan narkoba” semakin menjadi dengan adanya perdagangan ganja yang illegal di jalan-jalan kota.
Di kota Tilburg yang berlokasi di sebelah selatan Belanda, beberapa Coffeshop tetap menjual paket ganja kepada wisatawan sekalipun bertentangan dengan hukum baru.
Ini bisnis biasa, menurut Willem Vuggy, pemilik kedai kopi Oermelijn di Tilburg. “Kami telah menjual ganja kepada siapa saja yang datang seperti biasa,” kata Vuggy. Dia adalah salah satu dari beberapa pemilik kedai kopi (Coffeshop) yang menginginkan pengadilan menguji secara legal tentang peraturan larangan tersebut. “Kami dipaksa untuk melakukan diskriminasi terhadap orang asing,” katanya.
Menurut Vuggy, tokonya dikunjungi sekitar 800 pengunjung per hari, termasuk 150-200 orang setiap sehari yang datang dari Belgia, yang berjarak kurang dari setengah jam perjalanan dengan mobil.
“Para konsumen tidak hanya membeli ganja disini, tapi juga membelanjakan uangnya untuk kebutuhan lainnya selama di sini,” kata Vuggy. Ia juga menambahkan bahwa hilangnya pelanggan Coffeshop secara ekonomis merugikan warga kota Tilburg.
Selama bertahun-tahun, Belanda telah menerapkan toleransi penjualan hingga lima gram ganja dan hasish per orang per hari di Coffeshop. Selain itu, hukum di Belanda juga mengizinkan orang menanam ganja hingga lima batang pohon per orang di bawah kebijakan “toleransi” Belanda. (cpt)
-
caulis itong


