Category Archives: Hikayat Pohon Ganja

Updates Informasi Hikayat Pohon Ganja (HPG)

Tim LGN untuk perjalan ke Aceh

[Laporan Perjalanan] LGN Aceh dan Unsyah siap pelopori riset ganja pertama di Indonesia

LGN yang diwakili Dhira, Danto dan Gera berangkat ke Medan hari Minggu, 23 Maret 2014. Kami sengaja singgah di Medan untuk sedikit beradaptasi dengan masyarakat Sumatra sebelum tiba di Aceh. Setibanya di Bandara Kualanamu, Medan, kami dijemput oleh rombongan LGN Medan yang diwakili Oguds, Ingga dan Popo. Itulah pertama kalinya Ketua dan Kadiv. Advokasi LGN menginjakan kaki di tanah Sumatra.

Continue reading

BNN Gemetar Mendengar Kejujuran Pengguna Ganja

Bedah Buku HPG oleh Dhira

Edukasi Bulanan LGN Februari 2013 di Coffee Institute dihadiri oleh sekitar 60 orang lebih. Yudhi dan Pay membuka acara dengan alunan musik jalanan yang khas bertema “Negeri Ini Bukan Komoditi”. Selain itu, mereka juga mengekspresikan diri dengan membawakan sebuah puisi spontan yang diminta oleh pengunjung. Suasana di tempat itu sejenak menjadi hening dan tentram. Pada saat seperti inilah LGN memulai bedah Buku Hikayat Pohon Ganja.

Ketua LGN, Dhira Narayana, seperti biasanya mengingatkan kepada pengunjung bahwa kita sedang berbicara tentang pohon ganja. Hal ini ditekankan karena ganja selalu diasosiasikan dengan Narkotika sehingga masyarakat lupa bahwa ganja adalah tanaman. Secara umum Buku tersebut membahas secara detail sejarah ganja, Ganja Industri (Hemp), Ganja Medis maupun politik ganja. Tidak lupa pula Dhira bercerita mengenai proses ilegalisasi ganja di dunia. Sejarah mencatat bahwa ilegalisasi ganja di Indonesia terjadi karena negara ini mengikuti mentah-mentah kebijakan yang diterapkan di Amerika.

Di sela-sela proses edukasi, kami kedatangan tamu istimewa BNN yang diwakili oleh Bapak Supardi sebagai Kasubdit. Hukum ditemani oleh 2 dokter Ibu Yosi dan Ibu Siti.

Dr. Yosi dari BNN

Dr. Yosi dari BNN

Hal ini begitu istimewa karena inilah kali pertamanya BNN menghadiri undangan dari LGN. Apa yang kemudian terjadi adalah acara Edukasi Bulanan berubah arah menjadi acara diskusi dengan BNN. Dhira mulai mengarahkan diskusi dengan pertanyaan langsung kepada BNN, Bagaimana pandangan BNN terhadap legalisasi ganja dan Seperti apa efek ganja itu? Secara umum BNN setuju dengan prinsip legalisasi ganja bahwa pemerintah harus mengambil alih perdagangan ganja dari sindikat-sindikat. Selain itu, BNN juga mendukung upaya penelitian yang dilakukan oleh LGN. Dr. Yosi sebagai Dokter Umum dari BNN juga menambahkan informasi mengenai efek ganja kepada para pengunjung. Menurutnya BNN belum pernah menemukan pengguna ganja rutin yang hidup normal.

Diskusi jelas menjadi semakin hidup setelah pernyataan itu karena beberapa dari pengunjung adalah penikmat ganja dan menjalani kehidupan normal. Salah satu pengunjung wanita mengaku telah menggunakan ganja semenjak usia 15 tahun dan masih aktif menikmati ganja diusianya yang ke 38. Dalam perjalanan hidupnya, wanita lulusan S2 Perguruan Tinggi Amerika tersebut telah menorehkan beberapa prestasi. Prestasi utama adalah menjadi moderator dalam diskusi PBB beberapa waktu lalu. Saat ini beliau masih aktif sebagai trainer guru SLB. Pengakuan tersebut mengundang banyak pengunjung untuk kemudian memberikan kesaksiannya. Dari seluruh testimoni tersebut tidak ada satu pun yang membenarkan pernyataan dokter BNN.

Peter Dantovski

Peter Dantovski

Terakhir, Peter Dantovsky sebagai pengguna Ganja Medis sekaligus penulis Buku Kriminalisasi Ganja memberikan argumennya terhadap kebijakan Narkotika yang kata BNN Humanis. Sebagai orang yang pernah 2 kali ditahan karena menggunakan ganja untuk mengatasi nyeri neuropatik kronis, beliau menyangkal prinsip Humanis UU Narkotika. Secara resmi, atas ijin Menkes, belum pernah dilakukan penelitian tentang ganja di Indonesia. BNN juga mengakui hal tersebut.

“Lantas dari mana para tuan besar dan tuan kecil itu dapat mengetahui bahayanya jika memang belum pernah dilakukan penelitian tentang ganja?

Bagaimana bisa humanis sebuah UU yang tidak mengindahkan ilmu pengetahuan melainkan mendasarkan diri pada asumsi semata?

Tuntutan kami, warga negara penyandang sakit dan cacat yang membutuhkan ganja untuk kesehatan adalah, segera lakukan penelitian tentang manfaat medis ganja bagi kesehatan; Kalau perlu dengan menjadikan kami sebagai obyek penelitian.

Jangan penjarakan orang sakit dan cacat yang membutuhkan perawatan medik;

Jangan berlaku sewenang-wenang terhadap sesama umatnya Tuhan.

Dan jangan berlaku sombong di hadapan Tuhan dengan mengharamkan segala sesuatu yang tidak haram’” ujar beliau.

Begitulah acara edukasi kepada masyarakat berubah 180 derajat menjadi edukasi untuk BNN.

Fajar Makassar

LGN Minta Redaksi Media Fajar Memberitakan Fakta Manfaat Ganja Dalam Buku HPG

LGN Pusat dan LGN Makassar mengunjungi kantor redaksi Media Fajar, sebuah perusahaan media massa yang sangat berpengaruh di Makassar, Sulawesi Selatan. Kedatangan pengurus LGN diterima dengan ramah oleh staff redaksi surat kabar FAJAR yang bernama Alief Sappewali. Maksud kunjungan LGN ke redaksi FAJAR yaitu untuk memperkenalkan diri dan menanyakan mengenai prosedur pemberitahuan adanya kegiatan LGN agar dapat diliput oleh Media Fajar. Selain itu LGN juga meminta redaksi FAJAR untuk lebih proporsional dalam memberikan informasi mengenai tanaman ganja sekaligus membuat resensi buku HPG.

Dari kedua kunjungan tersebut, pengurus LGN memberikan buku HPG sebagai dasar pengetahuan mengenai tanaman ganja yang digunakan sebagai argumen dalam menyuarakan legalisasi pemanfaatan tanaman ganja di Indonesia.

Pada tanggal 19 September 2012, sebelum  meninggalkan kota Makassar, tim LGN menyempatkan diri untuk menghadiri undangan EBS 107.7 FM, yaitu sebuah stasiun radio komunitas UNHAS Makassar. (cpt)

Biro Bina Napza Makassar

Kepala Biro Bina Napza Sulsel Dukung Legalisasi Ganja

Perjalanan Lingkar Ganja Nusantara di kota Makassar menghasilkan 2 bedah buku di Universitas Hasanuddin dan Universitas Satria. Seiring dengan aktifitas bedah buku, LGN Pusat (Dhira & Cipta) dan LGN Makassar (Reza & Ri Rie) menyempatkan diri berkunjung ke kantor Biro Bina Napza Sulawesi Selatan.

Biro Bina Napza Makassar
Pada tanggal 18/09 LGN mengunjungi kantor Biro Bina Napza dan HIV/AIDS Sulawesi Selatan. Kepala Biro Bina Napza, Ir. Sri Endang Sukarsih, MP menerima kunjungan LGN di Sekretariat Biro Bina Napza di kantor Gubernur Sulawesi Selatan. Tujuan LGN ke kantor Biro Bina Napza adalah untuk memperkenalkan LGN Makassar serta meminta izin untuk menggunakan fasilitas Biro Bina Napza yang bernama Rumah Berbagi BALLA’TA yang berupa ruang kantor yang diperuntukkan kepada kelompok atau komunitas yang ingin berkumpul dan saling berbagi.

Dalam perbincangan ibu Sri Endang Sukarsih mengatakan, “Pada prinsipnya saya mendukung wacana legalisasi ganja, namun sayangnya negara kita belum memungkinkan warga negaranya untuk dapat mengkonsumsi zat-zat tertentu dalam jumlah terbatas.” Beliau bercerita bahwa masyarakat Bugis Makassar ada yang menggunakan ganja sebagai tambahan untuk hidangan tape yang dihidangkan dengan bumbu yang terbuat dari daun ganja.

Ibu Sri Endang terlihat sangat senang dengan kedatangan LGN kekantornya. Beliau mengatakan, “Memang sekarang ini sudah tersebar isu kalau ganja bisa menyembuhkan, tapi sampai sekarang belum ada bukti karena belum ada penelitian di Indonesia mengenai manfaat tanaman ganja.” Ia menyarankan LGN untuk menggandeng para medis untuk menguatkan bukti penelitian yang tertulis di buku HPG.

LGN Makassar belum memiliki kantor sekretariat. Dengan bergabung di Rumah Berbagi BALLA’TA, diharapkan LGN Makassar dapat memiliki kantor sekretariat sementara sampai akhirnya LGN Makassar mampu menyewa kantor sendiri. (cpt)

Gallery Foto

FOTO: Ri Rie

Bedah buku HPG di Universitas Satria Makassar

Bedah buku HPG di Universitas Satria Makassar

Setelah selesai bedah buku Hikayat Pohon Ganja di Universitas Hasanuddin (15/9), LGN lanjut ke bedah buku HPG di Universitas Satria di kota Makassar. LGN mendapat undangan dari Badan Eksekutif Mahasiswa Ilmu Sosial dan Politik (BEM Sospol) dan Ikatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (IMIK) untuk menggelar bedah buku HPG tanggal 18 September 2012. Acara dimulai dari jam 4 sampai jam 6 sore dengan liputan langsung dari stasiun TVRI Makassar.

Burhanudin (ketua BEM Sospol) dan Sartika (ketua IMIK) mengundang LGN karena tertarik dengan isi buku HPG yang baru mereka ketahui ketika mereka juga hadir dalam acara bedah buku HPG di Universitas Hasanuddin. Dengan persiapan yang sangat cepat mereka membuka aula Universitas Satria menjadi ruang terbuka untuk membedah buku HPG.

Hal penting yang menjadi daya tarik mereka pada buku HPG adalah informasi mengenai manfaat dari tanaman ganja yang belum pernah mereka temukan sebelumnya. Sayangnya karena waktu yang sangat mendesak, tidak semua angkatan mahasiswa di Universitas Satria yang hadir. Banyak mahasiswa yang belum kembali masuk kuliah setelah ujian akhir semester. Tetapi walaupun demikian, bedah buku HPG berjalan lancar dengan jumlah mahasiswa yang hadir sekitar 100 orang.

Dhira Narayana tampil didepan mahasiswa Universitas Satria yang hadir memenuhi ruangan. Mulai dari pencerahan informasi mengenai potensi medis dan industri dari tanaman ganja sampai aktivitas LGN dalam mengejar visi dan misinya dikupas tuntas dalam acara bedah buku sore itu.

Seperti umumnya masyarakat di Indonesia, mahasiswa di Universitas Satria mengetahui informasi mengenai tanaman ganja hanya dari satu sumber, yaitu kampanye anti narkoba dari pemerintah yang kerap melakukan kebohongan publik mengenai bahaya tanaman ganja. Melalui bedah buku HPG, mahasiswa dapat tercerahkan pikiran dan pandangannya mengenai tanaman ganja. (cpt)

Koleksi Foto

FOTO: Rie Ri