LGN hadir dalam acara bedah buku “Membunuh Indonesia” (Konspirasi Global Penghancuran Kretek), malam tgl.15 Maret 2012. Penulis buku dan beberapa narasumber, salah satunya Bpk Mohamad Sobary, seorang budayawan dan penulis tetap di surat kabar harian KOMPAS turut memberikan epilog seputar konspirasi global yang merugikan industry rokok dan industry lain di Indonesia. Abisham DM, penulis buku tersebut bercerita mengenai pelarangan rokok kretek di Amerika Serikat yang diprakarsai oleh WHO dan adanya campur tangan perusahaan rokok Philip Morris. Benarkah WHO ingin menyehatkan bangsa atau ada kepentingan lain?

Cipta, Mohamad Sobary, Alzian, Alfa

Abisham DM sebagai penulis buku Membunuh Indonesia menegaskan bahwa isu yang dibawa komunitas kretek ini bukan bermaksud mengajak orang untuk merokok, melainkan lebih kepada rasa nasionalisme bangsa Indonesia yang selama ini dijajah oleh kepentingan kapitalisme asing. Kretek, dalam hal ini sebagai produk tradisonal perlu kita lindungi. Riset mengenai bahaya rokok kretek di AS berbeda dengan riset yang ada di Indonesia. Selama ini penelitian mengenai bahaya tembakau sarat dengan intervensi asing.

Mohamad Sobary melanjutkan diskusi bedah buku ini dengan mengangkat tokoh Ronggowarsito yang hidup diakhir abad ke 18. Ronggowarsito pernah mengatakan bahwa zaman ini zaman edan! Orang baik dimusuhi, dijauhi dan tidak laku dipemerintahan sedangkan orang jahat sebaliknya, mereka selalu mendapat tempat dan posisi penting. Seperti yang terjadi sekarang ini, dimana anggota DPR, Komnas HAM, dll diisi oleh orang-orang yang tidak baik. Orang jahat laku, dan orang baik tersingkirkan.

Belakangan ini banyak para pelobby dari AS yang datang ke Indonesia dengan sekoper uang dan mengatur-atur kebijakan hukum di Indonesia seperti kebijakan pertanian, perkebunan dan kebijakan perekonomian lainnya yang intinya merugikan bangsa Indonesia dan menguntungkan mereka.

Kapitalisme merupakan praktek culas dari negara-negara maju yang ingin menindas negara-negara berkembang dengan memanfaatkan lembaga Internasional seperti PBB. Kapitalisme asing merampas kekayaan bangsa Indonesia dan membawa keuntungannya ke luar Indonesia. Akan tetapi menurut Pak Sobary, kapitalis itu ada yang baik dan yang buruk, contohnya Philip Morris sebagai salah satu raksasa produsen rokok dari Amerika mengambil alih kepemilikan PT Sampoerna dan membawa keuntungan perusahan tersebut ke negaranya. Sedangkan PT Djarum, sebagai salah satu bentuk kapitalisme lokal dalam industri tembakau menggunakan sebagian dari keuntungan perusahaannya untuk mendanai aktivitas kesenian, olahraga dan kegiatan sosial lainnya di Indonesia.

Pada kesempatan malam itu perwakilan LGN yang terdiri dari Cipta dan Alzian sempat berbincang-bincang dengan Bpk Mohamad Sobary mengenai pergerakan legalisasi ganja yang diusung LGN. Pak Sobary sepertinya sudah mengetahui sedikit tentang LGN, beliau mengatakan “Tim LGN yang menulis buku yang diterbitkan Gramedia itu ya?” Kemudian kami mengiyakan dan menyebutkan judul buku yang dimaksud pak Sobary itu Hikayat Pohon Ganja. Pak Sobary dengan ramahnya mengundang kami untuk berkunjung ke rumahnya. Beliau bertukar nomor handphone dengan kami dan akan menyambut kehadiran LGN di rumahnya awal bulan April 2012 untuk membahas wacana yang ditawarkan LGN.

LGN memperkenalkan diri pada teman-teman dari komunitas kretek sebagai bentuk komunikasi antara sesama aktivis yang menetang kebijakan international yang merugikan umat manusia, khususnya bangsa Indonesia. Teman-teman dari Komunitas Kretek senang dengan kehadiran LGN dan mengajak LGN untuk berkunjung ke kantor sekretariat Komunitas Kretek di wilayah Tebet, Jakarta Pusat. (cpt)

Tagged with: