Seminar Nasional Narkotika Atma Jaya : UU Narkotika Tidak Adil Dan Beradab

dari kiri ke kanan : Tyas, Edo, Anang yang telah meninggalkan seminar, Arman, Asmin & Lamtiur

dari kiri ke kanan : Tyas, Edo, Anang yang telah meninggalkan seminar, Arman, Asmin & Lamtiur

Perjalanan LGN melegalisasi ganja di Indonesia kembali menemukan titik cerahnya. Kamis, 30 Mei 2013 lalu, Unika Atma Jaya berhasil mengadakan Seminar Nasional Narkotika bertajuk “Tantangan Kebijakan Narkotika di Indonesia”. Seminar tersebut langsung dipimpin oleh Kepala Program Magister Psikologi Sosial Unika Atma Jaya, E. S. Tyas Suci, PhD. 

Continue reading

Bonum Commune : Membawa Kebaikan Dengan Legalisasi Ganja

Dove_cannabis_earthDalam kamus frasa Latin, lengkapnya adalah bonum commune communitatis, yang disejajarkan dengan common good of society, atau general welfare, atau the greater good. Dalam kesempatan ini LGN menjadikan frasa tersebut sebagai judul tulisan ini karena kurang-lebih memang seperti itulah tujuan dari perjuangan legalisasi ganja. Lebih jauh, LGN bermaksud untuk mengingatkan bahwa dalam lingkup gereja Katolik, sejauh perbincangannya menyangkut persoalan Narkotika dan zat adiktif (Napza), Gereja telah memiliki sikap (atau arah dasar) yang jelas. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan diterbitkannya Seri Dokumen Gerejawi No. 79 tentang Napza oleh  Departemen Dokumentasi dan Penerangan Konferensi Wali Gereja Indonesia (Maret, 2010).

Continue reading

Suasana Diskusi Di Rumah Kepala Desa, Indramayu

Deklarasi LGN Indramayu

LGN Pusat : Ocha, Luqman, Fafa, Tyo & Emile (dari kiri ke kanan)

LGN Pusat : Ocha, Luqman, Fafa, Tyo & Emile (dari kiri ke kanan)

Hari itu tanggal 11 Mei 2013, Tim LGN Pusat yang terdiri dari Emile, Fafa & Luqman beserta pejuang senyum lainya (Ocha & Tyo) menyambangi salah satu kota yang terkenal dengan julukan kota mangga yaitu Indramayu. Meski ada sedikit kendala yang “memaksa” tim tiba di lokasi dengan keterlambatan, hal itu tidak menyurutkan antusiasme para pejuang senyum kota Indramayu menyambut kedatangan tim LGN Pusat. Dengan menggunakan jasa “mobil motor” tim menyusuri persawahan dan jalan berbatu menuju pantai Truntum.

Continue reading

Garuda-PS-

Pancasila : Landasan Perjuangan Kita

garuda_pancasila-warna-merah-putih

Kenapa takut Pancasila ?

Sejak beberapa waktu yang lalu, kira-kira mulai pada awal bulan Mei 2013, dunia legalizer Indonesia Raya agak bergejolak karena perdebatan tanpa ujung-pangkal soal Pancasila di situs-situs jejaring sosial. Secara khusus, bahkan sangat khusus, LGN merasa perlu untuk bersyukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan demikian Pancasila kembali diperbincangkan. Namun, tentu saja LGN merasa prihatin karena ada nada kebencian atau bahkan ketakutan kepada Pancasila yang cukup kuat dalam perdebatan tersebut. Kebencian atau ketakutan terhadap Pancaila itu bermuara kepada ketidakpercayaan. Tidak percaya bahwa Pancasila dapat menjamin kerukunan hidup beragama, atau kerukunan hidup pada umumnya; Tidak percaya kalau Pancasila dapat menjamin terwujudnya kemanusiaan yang adil dan beradab (dan dengan demikian terpenuhinya rasa aman); Tidak percaya kalau Pancasila dapat menjamin persatuan Indonesia; Tidak percaya kalau Pancasila dapat menjadi dasar bagi suatu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan; Serta sama sekali tidak percaya jika Pancasila mampu mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Padahal siapapun tahu, bahwa ketidakpercayaan dapat menimbulkan berbagai hal buruk yang tentu saja tidak diinginkan. Ketidak percayaan seorang istri atau suami terhadap pasangannya dapat menyebabkan percekcokan hingga perceraian. Ketidakpercayaan pembeli terhadap penjual dapat menyebabkan terjadinya perkara hingga ke pengadilan. Ketidakpercayaan rakyat terhadap pemimpinnya dapat menyebabkan demonstrasi hingga pembangkangan sipil atau civil disobedience.  Dalam sejarah kita juga dapat melihat, bahwa ketidak percayaan terhadap Pancasila telah menyebabkan berbagai pemberontakan: DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia), PRRI/Permesta (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia/Perjuangan Rakyat Semesta), dan G30S PKI.

Harus jujur diakui, bahwa hingga saat ini perjalanan hidup kita sebagai bangsa dan Negara, sebagai national entity dan state entity, belum juga mampu mendekati pemenuhan cita-cita dan janji Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, seperti yang dinyatakan dalam pembukaan UUD 1945. Kenyataan yang terpampang dihadapan kita sejak berlakunya program developmentalisme Orde Baru adalah justru semakin tergadaikannya kehormatan dan kedaulatan kita sebagai bangsa dan Negara. Setelah reformasi (Mei 1998), berbagai aset dan akses kapital bangsa justru kian tak terjaga dan pengelolaannya lepas dari tangan kepentingan nasional kita. Tertundukkannya kedaulatan nasional kita di hadapan nafsu dan kepentingan sistem global itulah yang menjadikan kita semakin dijauhkan dari aset dan akses kapital kita sendiri. Menguapnya kedaulatan itulah yang menjadikan bangsa yang begini kaya diubah menjadi bangsa pengemis.

Di dalam Global Marijuana March di Bundaran HI, tanggal 4 Mei 2013, dengan terbuka LGN telah menyatakan bahwa terdapat keterpintalan yang sangat kuat dan bahkan tak terpisahkan antara perjuangan legalisasi ganja di Indonesia dengan upaya menegakkan ideologi Pancasila dan menginternasionalkannya sebagai ideologi terbuka. Apakah LGN sedang bermain-main atau mengada-ada ketika mengeluarkan statement tersebut? Berbicara tentang ideologi sebagai dasar pengelolaan kehidupan berbangsa dan bernegara secara bersama, tentu saja harus memiliki dasar pemahaman yang tidak saja harus benar tetapi juga harus tepat. Dengan lain perkataan tidak boleh sembarangan. Alasannya sangat jelas yaitu, karena tema ideologi terkait tak terpisahkan dengan tema penjagaan dan pengelolaan aset dan akses kapital nasional demi tercapainya “rakyat adil, makmur, sentosa”. Dalam konteks ini para legalizer harus senantiasa ingat dan memahami, bahwa ganja adalah merupakan salah satu aset kapital bangsa yang sangat tinggi nilai ekonomisnya.

Lingkar Ganja Nusantara meyakini bahwa ideologi adalah sesuatu yang paling mendasar yang dibutuhkan oleh manusia untuk bertahan hidup dan mengembangkan kehidupannya. Dengan begitu, tanpa ideologi manusia tidak akan dapat bertahan hidup. Jadi bagaimana mungkin LGN, sebagai generasi bangsa dan warga Negara Republik Indonesia yang sadar akan tugas dan tanggung jawabnya, sebagai bagian dari national entity dan state entity, mengangkat tema tentang penjagaan dan pengelolaan hal sepenting aset dan akses kapital bangsa, aset dan akses kapital nasional, secara main-main dan tanpa pemahaman yang benar tentang ideologi?

Bung Karno - Pancasila ditemukan dengan menggali tradisi Nusantara sampai keakarnya

Bung Karno – Pancasila ditemukan dengan menggali tradisi Nusantara sampai keakarnya

Pancasila sebagai jembatan Ideologi Kapitalis-Sosialis

Di masa lalu, pada masa kekuasaan Orde Baru, dan hal ini memang sungguh sangat patut disayangkan, Pancasila telah dicegah untuk menjadi ideologi terbuka dan ditempatkan sebagai ideologi tertutup. Pada hakekatnya, Pancasila adalah satu-satunya ideologi yang memiliki potensi untuk memberikan keseimbangan bagi dua kutub ideologi dominan, Kapitalisme dan Sosialisme. Sejak berakhirnya Perang Dunia II, setelah kekalahan Fasisme (Jerman, Jepang, Italia), terbentuklah yang namanya “sistem (pemerintahan) global” yang bernama United Nations atau Perserikatan Bangsa-Bangsa.

“Sistem global” tersebut, yang berlaku hingga saat ini, dikelola semata-mata dengan berlandaskan kepada kedua ideologi dominan tersebut. Buktinya sungguh nyata dan kasat mata; Saat ini yang menentukan merah-hitam-nya kebijakan PBB adalah Negara-negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB, para pemegang hak veto; AS, Inggris, Rusia (dulu Uni Sovyet), China, dan Prancis; Negara-negara Kapitalis dan Sosialis. Sampai dengan tahap ini, dengan rendah hati LGN memohon kepada seluruh legalizer untuk berusaha memahami bahwa “sistem global” (gabungan atau per”sekutu”an antara Kapitalisme dan Sosialisme) yang bernama PBB itulah yang telah mengeluarkan kebijakan “kriminalisasi” terhadap makhluk Tuhan dari jenis tetumbuhan yang bernama pohon ganja dan siapa saja yang berani memanfaatkannya. (Ingat, United Single Convention on Narcitics Drugs tahun 1961.)

Akibat dari pengelolaan dunia yang berlandaskan kepada “sistem global” Kapitalisme-Sosialisme, adalah eksploitasi “tanpa batas” dari berbagai aset dan akses kapital dunia; eksploitasi dan monopoli tanpa batas terhadap berbagai sumber daya alam tak terbarukan, perampokan dan penggundulan hutan, eksploitasi senilai ribuan metrix ton per hari di Freeport, dan di berbagai aset kapital dalam bentuk bahan baku (sumber daya alam) di seluruh penjuru dunia, penindasan terhadap buruh, monopoli benih, monopoli pupuk, kerusakan kwalitas kesuburan tanah, pembunuhan secara sistematis terhadap petani dan budaya agraris kita, dll, dsb, dst. Kenapa begitu? Karena, kedua ideologi dominan tersebut, kapitalisme dan sosialisme, adalah saudara kandung yang lahir dari rahim filsafat yang sama, yaitu filsafat materialisme Barat.

Sangat mudah untuk menghubungkan, dan menarik kesimpulan, bahwa jika dasar filsafatnya, mindset-nya, materialisme, maka pola perilakunya (termasuk dan terutama dalam hal ekonomi-politik) pasti juga materialistik. Dalam dunia yang materialistik, yang tumbuh subur adalah hedonisme dan pragmatisme. Masyarakat yang tercipta dari kebudayaan materialistik semacam ini adalah masyarakat yang hiper konsumtif. Itu sebabnya saat ini kita menyaksikan berbagai kerusakan ekologi yang sudah mencapai taraf sangat mengkhawatirkan. Di samping itu, kita juga menyaksikan dengan sangat mencolok adanya kesenjangan antara kaya dan miskin yang, atas jasa sistem global ini, kian hari kian ekstrim.

Rezim Orde Baru, suka-tidak suka, harus diakui merupakan sebuah rezim yang terbentuk sebagai akibat langsung dari pemantapan sistem global melalui peristiwa penting yang bernama “perang dingin”. Pada masa berkuasanya Orde Baru itulah, seluruh potensi yang dimiliki Pancasila sebagai ideologi terbuka telah dipangkas dan kemudian semata-mata dijadikan sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan dan menindas lawan-lawan politik. Orde Baru, dengan seluruh “paket program global” yang berjudul developmentalisme, telah memonopoli interpretasi Pancasila sepenuhnya untuk mempertahankan kekuasaannya. Pancasila dipasung sebagai ideologi tertutup. Artinya apa? Artinya, sebagai ideologi tertutup, Pancasila TIDAK BOLEH dibuka, TIDAK BOLEH dikritisi, dibedah, dimaknai, diapresiasi dan diekspresikan dalam kemerdekaan aktivitas dan kreativitas seluruh rakyat sebagai warga Negara. Setiap interpretasi tentang Pancasila “yang lain” dari interpretasi Orde Baru akan dituduh sebagai subversive dan diganjar dengan penindasan. Akibatnya, bagi banyak pihak, Pancasila menjelma menjadi momok yang menakutkan. Bahkan memperbincangkan Pancasila bagi banyak orang atau kalangan tertentu dapat benar-benar menimbulkan trauma.

Pancasila sebagai pijakan perjuangan LGN

Adanya kenyataan yang semacam itulah yang menuntun kesadaran LGN untuk secara tegas mengambil sikap. Hukumnya atau dalilnya jelas, “Tentukan dimana kamu berdiri, dan bertindaklah sesuai dengan itu.” LGN telah menemukan hubungan langsung antara semangat dan cita-cita gerakan legalisasi ganja di Indonesia dengan Pancasila. Karena itulah LGN memutuskan untuk berdiri di atas landasan bersama yang bernama ideologi Pancasila. Dengan begitu adalah sudah sewajarnya jika seluruh kesadaran LGN sebagai organisasi dan seluruh orientasi, tujuan, serta cita-cita perjuangan LGN didirikan dan ditegakkan di atas pondasi Pancasila sebagai ideologi. Konsekwensinya, LGN harus dengan sadar se-sadar-sadarnya, menempatkan semangat dan cita-cita perjuangan legalisasi ganja dalam bingkai keberpihakan kepada Tanah-Air sendiri; Kesadaran untuk berani mengambil sikap membela kepentingan bangsa sendiri. Sebagai anak kandung kebudayaan Nusantara, Lingkar Ganja Nusantara memiliki kewajiban untuk ikut serta mengabarkan kebenaran tentang hakekat ideologi Pancasila demi terpenuhinya cita-cita dan janji Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus’45.

Lingkar Ganja Nusantara merasa sangat bersyukur karena telah menemukan interpretasi atas nilai atau semangat dasar yang menjadi landasan dari cita-cita atau bahkan janji dari Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Interpretasi yang tidak saja indah tetapi bahkan agung dari Pancasila. LGN menemukan kebenaran dalam kesimpulan yang diambil para “pencari”, para sufi, dalam pengertiannya yang paling hakiki, bahwa “Pancasila is one step to the universal peace of mind.” Di atas dasar itulah LGN memutuskan untuk berdiri.

Para penguasa yang saat ini menempati puncak piramida kekuasaan sistem global: kelima Negara anggota tetap DK PBB, para pemegang hak veto, dan seluruh jaringan Trans National Corporation dan Multi National Corporation (TNC dan MNC); Para kapitalis global penguasa monopoli sumber energi, penguasa monopoli mineral, penguasa monopoli farmasi, penguasa monopoli benih, dll, dsb, dst, nampaknya berdiri sebagai pihak yang akan merasa terganggu jika Pancasila dijadikan sebagai ideologi terbuka yang harus dilibatkan dalam pembangunan tata dunia baru yang lebih adil dan beradab.

Para penguasa sistem global itu pulalah yang sejak 1961 menggelontorkan dana milyaran dollar untuk membiayai kampanye dan propaganda global anti-ganja. Jadi, rasa-rasanya agak aneh dan janggal, jika ada legalizer Indonesia, Pejuang Senyum, menyatakan menolak untuk menjadikan Pancasila sebagai dasar perjuangan. Karena Pancasila yang dijadikan sebagai landasan perjuangan LGN, dan seluruh kawan-kawan seperjuangannya, adalah Pancasila sebagai “one step to the universal peace of mind”. Yang diperjuangkan LGN bersama kawan-kawan seperjuangannya adalah mendudukkan Pancasila sebagai sumber “nilai” baru, sumber “energi” baru bagi pembangunan suatu tata dunia yang lebih adil dan memperhatikan keseimbangan antara manusia dan lingkungan hidupnya. (Peter Dantovski, Warga Negara Republik Indonesia, Ketua Divisi Advokasi LGN)

 

FEATURED

GMM 2013 Jakarta : Kebangkitan Spiritualitas Juang Generasi Muda Indonesia

bendera LGN Indonesia GMM2013

Bendera Indonesia & Bendera LGN berkibar saat aksi

“Apa ada sekarang ini aksi turun ke jalan yang tidak dibayar?” Demonstrasi, unjuk rasa, aksi damai atau apapun sebutannya sebagai bentuk penyaluran aspirasi, saat ini oleh masyarakat tak lagi dianggap sebagai sesuatu yang murni digerakkan oleh semangat untuk perubahan yang lebih baik dari hati nurani. Banyak pihak saat ini begitu skeptis dan beranggapan bahwa tidak ada lagi aksi demonstrasi yang tidak dibayar. Setiap kali ada unjuk rasa, siapapun akan berpikir bahwa peserta aksi mau ikut bergabung dalam aksi turun jalan karena mereka mendapat bayaran. Tentu pendapat yang semacam itu tidak dapat dipersalahkan. Dalam kenyataan sehari-hari memang begitulah yang terjadi.

Akan tetapi, jika pertanyaan tersebut dilontarkan kepada Lingkar Ganja Nusantara, peserta aksi Global Marijuana March di Bundaran HI tanggal 4 Mei yang lalu, mereka akan dengan semangat dan senyum lebar menjawab, “Kami bergabung dalam aksi ini dengan suka rela dan senang hati.” Tak ada satupun dari mereka yang turut turun jalan bersama LGN setiap tahun di dalam GMM yang dibayar. Harus diketahui bahwa peserta aksi GMM tidak hanya dari wilayah Jakarta dan sekitarnya, tetapi juga dari luar kota, Bandung, Sukabumi, Serang, Jogjakarta, Surabaya, Makasar, Pekalongan, Bintan, Lampung, Gresik, Salatiga, Purworejo, Semarang, Medan, dan lain-lain. Mereka semua secara khusus datang ke Jakarta untuk secara suka rela bergabung dalam GMM dengan biaya sendiri dan bahkan masih berdonasi untuk konsumsi dan semua kebutuhan aksi.

Tabel Laporan Pengeluaran GMM 2013

Tabel Laporan Pengeluaran GMM 2013

Bahkan, sebagai organisasi yang hidup sepenuhnya dari donasi para anggota dan pendukungnya, LGN menginformasikan tentang besarnya biaya yang dikeluarkan untuk menyelenggarakan setiap kegiatannya, termasuk aksi damai Global Marijuana March tersebut. Hal tersebut sangat penting untuk membuktikan bahwa perjuangan legalisasi ganja di Indonesia dilakukan dengan serius dan bersungguh-sungguh, dan para legalizer Indonesia adalah para warga Negara yang bertangung jawab, yang tidak layak digolongkan sejajar dengan koruptor dan teroris oleh hukum di Republik ini.

L menunjukan perbandingan hasil rontgen setelah berhasil sembuh menggunakan terapi ganja

L menunjukan perbandingan hasil rontgen setelah berhasil sembuh menggunakan terapi ganja

GMM 2013 dimulai pada pukul 15.00 WIB. Kurang-lebih 1000 orang legalizer berkumpul di Bundaran HI, kemudian melakukan long march ke arah Jl. M. H. Thamrin, dan kemudian berbalik kembali ke Bundaran HI untuk melakukan orasi. Yang menarik, dalam orasi tersebut banyak peserta yang dengan berani memberikan testimoni yang menyatakan bahwa mereka sembuh dari berbagai penyakit yang mereka derita berkat khasiat ganja. Berbagai testimoni tersebut menegaskan bahwa tema GMM tahun 2013, “Petisi Riset Ganja Medis; Kemenkes, Mulailah Riset Ganja Medis #Ganja Medis” adalah sesuatu yang rasional dan bahkan sangat  mendesak untuk segera dilakukan.

Peter Dantovski (Kadiv. Advokasi LGN) ketika membakar semangat legalizer

Peter Dantovski (Kadiv. Advokasi LGN) & Irfan Hardiansyah (Kadiv. Fundrising LGN) ketika membakar semangat legalizer

Selain mengusung tema petisi riset ganja medis kepada Menkes RI, LGN juga mengapresiasi lontaran Menteri BUMN, Dahlan Iskan, yang mewacanakan tentang pembentukan BUMN Ganja demi kepentingan medis. Banyak pihak, termasuk anggota komisi IX DPR RI, yang menyatakan bahwa lontaran Dahlan tersebut melanggar UU. Dalam orasinya, Peter Dantovski (Kadiv. Advokasi LGN) menegaskan bahwa lontaran dari Menteri Negara BUMN tersebut, adalah sesuatu yang maju, solutif dan bahkan revolusioner. “Wacana yang dilontarkan oleh Menteri BUMN, Dahlan Iskan, tidak sedikitpun menyimpang dari Preambule UUD 1945 dan ideologi Negara, Pancasila. Yang paling nyata, dalam Sila ke-2 dari Pancasila dengan tegas menyatakan ‘Kemanusiaan yang adil dan beradab’ sedangkan UU no. 35 th. 2009, tentang Narkotika, dengan sangat tegas dan terang-benderang mengabaikan sila ke-2 dari pada ideologi Negara, Pancasila tersebut”, tegas Danto.

Dhira saat orasi (Ketua LGN)

Dhira (Ketua LGN) saat orasi

Ganja adalah aset kapital Nasional yang sangat tinggi nilai ekonomisnya, yang jika diperlakukan dengan benar dan semestinya dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya demi kesejahteraan rakyat dan pembangunan kedaulatan negara. Dhira dalam orasinya menegaskan, “ganja adalah rahmat dan anegerah Tuhan Yang Maha Esa kepada bangsa Indonesia, sebuah bangsa yang tidak memanfaatkan anugerah Allah Yang Maha Kuasa dan bahkan menyia-nyiakannya berarti adalah sebuah bangsa yang tidak tidak dapat bersyukur; Dan jika sebuah bangsa tidak dapat mensyukuri anugerah yang dikaruniakan Tuhan Yang Maha Esa kepadanya, maka kesengsaraanlah yang akan menimpanya.”

Long March GMM 2013 Jakarta, Indonesia

Long March GMM 2013 Jakarta, Indonesia

Pada saat yang bersamaan, kita semua saat ini menyaksikan dan merasakan bahwa dunia tengah mengalami krisis yang sangat serius. Berbagai krisis yang melanda dunia saat ini dan membawa akibat langsung kepada Republik Indonesia, sangat membutuhkan solusi yang paling rasional. Lingkar Ganja Nusantara menegaskan dalam GMM 2013 ini, bahwa terdapat keterpintalan yang sangat erat dan tak terpisahkan antara cita-cita perjuangan legalisasi ganja dengan mensemestakan Pancasila sebagai ideologi terbuka yang mampu menyediakan solusi bagi krisis yang tengah melanda dunia saat ini. Bagi siapapun yang ingin terlibat, langkah paling mudah adalah dengan menandatangani Petisi Riset Ganja Medis. (oleh Danto)

Pemanfaatan pohon ganja sebagai aset kapital bangsa demi terwujudnya rakyat adil makmur sentosa berdasarkan ajaran Pancasila.