Tag Archives: HPG

HPG

Buku Hikayat Pohon Ganja Bisa Dipesan Online di Website Gramedia

Pohon ganja telah menjadi momok yang begitu menakutkan di tengah-tengah masyarakat. Predikat Haram, perusak generasi muda, barang memabukkan, dan julukan-julukan negatif lainnya telah mendarah daging dalam pikiran masyarakat. Tanpa kita sadari, informasi tersebut tidak saja menodai pikiran kita namun juga telah menjelma menjadi sebuah kebijakan Internasional yang sangat disanjung-sanjung. Memberantas pohon ganja seolah-olah memberantas kejahatan. Menangkap pengguna ganja dianggap sebagai suatu kewajiban negara dalam usaha menyejahterakan warga negaranya.

Sejarah dan ilmu pengetahuan ternyata berkata lain. Semenjak tahun 12.000 SM sampai dengan tahun 1900-an, ganja lebih dikenal sebagai pohon kehidupan karena manfaatnya untuk menopang peradaban manusia; seratnya untuk pakaian dan kertas, bijinya sebagai sumber protein dan minyak nabati, bunga dan daunnya sebagai obat dan sarana rekreasi maupun spiritual. Lalu, mengapa pohon sejuta manfaat ini dilarang? Mengapa kita semua terkena tipu.

Details
ISBN: 9789792277272
Author: Tim LGN
Language: INDONESIA
Date Published: Desember 2011
Type: SOFT COVER
No. of Pages: 386
Dimensions (cm): 15 x 23

Untuk pemesanan buku HPG silahkan klik tautan ini:
http://www.gramediaonline.com/moreinfo.cfm?Product_ID=761547
Untuk memberikan tanggapan anda mengenai isi buku HPG silahkan klik tautan ini:
http://www.gramediaonline.com/review.cfm?Product_ID=761547

jayabaya

LGN Mengunjungi Ketua BEM Universitas Jayabaya di Tahanan Polres Jak-Pus

Rezky Prima Putra Tuanany, ketua BEM Universitas Jayabaya

Rezky Prima Putra Tuanany, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Jayabaya di tahan di Polres Jakarta Pusat karena memiliki dan menggunakan ganja pada hari Rabu 4 April 2012. Ketika aktivis Lingkar Ganja Nusantara mengunjungi Resky, ia dalam keadaan baik-baik saja, tidak ada perlakuan kasar yang ia alami selama proses penangkapan sampai penahanan. Rezky tertangkap ketika ia sedang menggunakan ganja di Hotel Menteng, Jakarta pada jam 8 pagi. Barang bukti berupa setengah linting ganja dan satu paket kecil seberat 2,1 gram.

Kepada LGN Resky mengatakan bahwa apa yang diberitakan media itu benar. “Saya ditangkap polisi ketika polisi sedang mencari kakak saya, Agung yang memang sudah menjadi incaran polisi terkait peristiwa rusuh saat melakukan demo turunkan harga BBM.” Pada pemberitaan di media Rezky mengakui bahwa ia memang menggunakan ganja, “Saya memakai ganja untuk relaksasi sebelum tidur dan saya menggunakan ganja sendirian”. Ketika bertemu aktivis LGN, Resky tampang senang sekali, sebab baru-baru ini melalui wakilnya ia pernah menghubungi LGN untuk mengadakan bedah buku Hikayat Pohon Ganja (HPG) di kampusnya. Rezky juga mengatakan bahwa ia ikut hadir waktu acara launching buku HPG di Gramedia.

Menurut informasi, Resky dituntut dengan pasal 111 ayat 1 Undang-Undang No 35 tahun 2009 tentang Narkotika, yaitu diancam hukuman penjara minimal 4 tahun dan paling lama 12 tahun.

Dalam menghadapi kasus ini, LGN mengajak teman-teman mahasiswa di seluruh Indonesia dan masyarakat pada umumnya untuk kembali merenungkan ketidakadilan hukum di Indonesia terkait pelarangan ganja dalam UU No.35 Narkotika 2009. Hanya karena memiliki dan menggunakan sejumlah kecil ganja, pantaskah saudara kita, seorang aktivis mahasiswa dan ketua BEM Universitas Jayabaya di kurung dalam penjara selama 4 sampai 12 tahun? Manfaat apa yang diterima rakyat Indonesia dengan memenjarakan seorang mahasiswa hanya karena mengkonsumsi ganja?

Bagi teman-teman mahasiswa yang bersimpati pada kasus yang menimpa teman kita Rizky Prima Putra Tuanany, mari kita satukan barisan solidaritas untuk bersikap kritis dan peduli pada nasib para pengguna ganja di Indonesia, terutama mahasiswa sebagai generasi muda penerus bangsa. Kepada teman-teman pendukung legalisasi ganja dari masyarakat pada umumnya, kami aktivis LGN mengajak kita semua untuk berjuang bersama mereformasi pasal-pasal dalam UU Narkotika yang sangat tidak adil terkait pelarangan penggunaan ganja.

Koordinasi dukungan silahkan hubungi kantor sekretariat Lingkar Ganja Nusantara di No. Telp: 021-60395198 atau email: keluarga@legalisasiganja.com

Cipta, Mohamad Sobary, Alzian, Alfa

LGN hadir di Acara Bedah Buku “Membunuh Indonesia”

LGN hadir dalam acara bedah buku “Membunuh Indonesia” (Konspirasi Global Penghancuran Kretek), malam tgl.15 Maret 2012. Penulis buku dan beberapa narasumber, salah satunya Bpk Mohamad Sobary, seorang budayawan dan penulis tetap di surat kabar harian KOMPAS turut memberikan epilog seputar konspirasi global yang merugikan industry rokok dan industry lain di Indonesia. Abisham DM, penulis buku tersebut bercerita mengenai pelarangan rokok kretek di Amerika Serikat yang diprakarsai oleh WHO dan adanya campur tangan perusahaan rokok Philip Morris. Benarkah WHO ingin menyehatkan bangsa atau ada kepentingan lain?

Cipta, Mohamad Sobary, Alzian, Alfa

Abisham DM sebagai penulis buku Membunuh Indonesia menegaskan bahwa isu yang dibawa komunitas kretek ini bukan bermaksud mengajak orang untuk merokok, melainkan lebih kepada rasa nasionalisme bangsa Indonesia yang selama ini dijajah oleh kepentingan kapitalisme asing. Kretek, dalam hal ini sebagai produk tradisonal perlu kita lindungi. Riset mengenai bahaya rokok kretek di AS berbeda dengan riset yang ada di Indonesia. Selama ini penelitian mengenai bahaya tembakau sarat dengan intervensi asing.

Mohamad Sobary melanjutkan diskusi bedah buku ini dengan mengangkat tokoh Ronggowarsito yang hidup diakhir abad ke 18. Ronggowarsito pernah mengatakan bahwa zaman ini zaman edan! Orang baik dimusuhi, dijauhi dan tidak laku dipemerintahan sedangkan orang jahat sebaliknya, mereka selalu mendapat tempat dan posisi penting. Seperti yang terjadi sekarang ini, dimana anggota DPR, Komnas HAM, dll diisi oleh orang-orang yang tidak baik. Orang jahat laku, dan orang baik tersingkirkan.

Belakangan ini banyak para pelobby dari AS yang datang ke Indonesia dengan sekoper uang dan mengatur-atur kebijakan hukum di Indonesia seperti kebijakan pertanian, perkebunan dan kebijakan perekonomian lainnya yang intinya merugikan bangsa Indonesia dan menguntungkan mereka.

Kapitalisme merupakan praktek culas dari negara-negara maju yang ingin menindas negara-negara berkembang dengan memanfaatkan lembaga Internasional seperti PBB. Kapitalisme asing merampas kekayaan bangsa Indonesia dan membawa keuntungannya ke luar Indonesia. Akan tetapi menurut Pak Sobary, kapitalis itu ada yang baik dan yang buruk, contohnya Philip Morris sebagai salah satu raksasa produsen rokok dari Amerika mengambil alih kepemilikan PT Sampoerna dan membawa keuntungan perusahan tersebut ke negaranya. Sedangkan PT Djarum, sebagai salah satu bentuk kapitalisme lokal dalam industri tembakau menggunakan sebagian dari keuntungan perusahaannya untuk mendanai aktivitas kesenian, olahraga dan kegiatan sosial lainnya di Indonesia.

Pada kesempatan malam itu perwakilan LGN yang terdiri dari Cipta dan Alzian sempat berbincang-bincang dengan Bpk Mohamad Sobary mengenai pergerakan legalisasi ganja yang diusung LGN. Pak Sobary sepertinya sudah mengetahui sedikit tentang LGN, beliau mengatakan “Tim LGN yang menulis buku yang diterbitkan Gramedia itu ya?” Kemudian kami mengiyakan dan menyebutkan judul buku yang dimaksud pak Sobary itu Hikayat Pohon Ganja. Pak Sobary dengan ramahnya mengundang kami untuk berkunjung ke rumahnya. Beliau bertukar nomor handphone dengan kami dan akan menyambut kehadiran LGN di rumahnya awal bulan April 2012 untuk membahas wacana yang ditawarkan LGN.

LGN memperkenalkan diri pada teman-teman dari komunitas kretek sebagai bentuk komunikasi antara sesama aktivis yang menetang kebijakan international yang merugikan umat manusia, khususnya bangsa Indonesia. Teman-teman dari Komunitas Kretek senang dengan kehadiran LGN dan mengajak LGN untuk berkunjung ke kantor sekretariat Komunitas Kretek di wilayah Tebet, Jakarta Pusat. (cpt)

IAIN Raden Intan

BEM Dakwah IAIN Lampung Menggelar Bedah Buku HPG

BANDAR LAMPUNG—Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Dakwah (BEM FD), Institut Agama Islam Negeri (IAIN), Raden Intan Lampung mengadakan bedah buku Hikayat Pohon Ganja  (HPG) yang ditulis Tim Lingkar Ganja Nasional (LGN) di sekretariat BEM FD.

Tujuannya agar mahasiswa Fakultas Dakwah tidak menilai sesuatu dengan cara langsung menjustifikasi. Tetapi, diteliti terlebih dahulu kira-kira lebih banyak mudarat atau manfaatnya dari ganja itu sendiri. Kahfi (24), sang pemateri, mengatakan ganja itu sendiri memiliki manfaat yang luar biasa. Sebab, bisa membantu penghijauan, perekonomian nasional, dijadikan obat, bahkan penyedap rasa. “Buku ini terbit atas dasar tim yang ingin ganja memiliki legalitas, baik itu di negara kita maupun di dunia. Saya ingin mahasiswa Fakultas Dakwah ini tidak menilai segala sesuatu hanya dari satu sisi. Sebab, sebenarnya ganja sendiri memiliki banyak sekali manfaat,” kata dia.

Kegiatan ini mengundang perhatian mahasiswa maupun alumni dan dihadiri bukan hanya mahasiswa Fakultas Dakwah, melainkan sejumlah alumnus Fakultas Dakwah, mahasiswa dari Fakultas Tarbiyah, sekaligus Wakil Presiden Mahasiswa IAIN Raden Intan Lampung Hermi Ismanto dan beberapa perwakilan mahasiswa dari fakultas lain yang ada di lingkungan IAIN. (*/S-3)

http://www.lampungpost.com/

Om Iwan

Launching HPG di Gramedia Jakarta

Acara launching buku Hikayat Pohon Ganja dihadiri banyak pengunjung. Mereka datang dari berbagai komunitas dan masyarakat umum. Pandji Pragiwaksono selaku moderator turut meramaikan suasana dengan guyonannya yang menggelitik. Namun sayangnya tiga narasumber yang turut membuka kata pengantar buku HPG tidak hadir. Prof. Komaruddin Hidayat, Prof. Irwanto, Ph.D dan Dr. Bagus Takwin, S.Psi., M.Hum berhalangan hadir. Tetapi Prof. Irwanto, walaupun ia tidak hadir, beliau menitipkan rekaman video yang berisi komentar dan pendapatnya mengenai HPG.

Pembukaan dan Kata Sambutan
Pembina LGN, Bpk. Iwan Jusack membuka peluncuran buku HPG dengan bercerita sekilas tentang buku dan terbentuknya LGN. Om Iwan, panggilan akrab beliau, mengatakan bahwa ia sendiri heran mengapa buku ini baru terbit sekarang, sedangkan buku HPG sebenarnya sudah rampung sejak dua tahun yang lalu. “Buku HPG akhirnya diterbitkan oleh PT. Gramedia dan ini sangat membanggakan bagi saya,” ujar Om Iwan. Sebagai sebuah perusahaan penerbitan besar di Indonesia, Gramedia tentu mempertimbangkan dahulu segala aspek yang akan terjadi pada buku HPG ini sebelum akhirnya mau menerbitkannya. Dengan diterbitkannya HPG oleh PT. Gamedia, diharapkan buku ini akan dengan cepat menyebar keseluruh wilayah Indonesia.

Pada kesempatan kedua, Direktur PT. Gramedia, Bpk Wandi S. Brata mengemukakan alasannya mengapa ia mau merilis buku HPG. Bpk Wandi berkata, “Untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, kadang perlu ada kontroversi, seperti informasi yang tertulis dalam buku HPG.” Pak wandi menjelaskan bahwa PT. Gramedia biasanya menerbitkan buku dengan pertimbangan yang umum, namun Gramedia juga menerbitkan buku dengan pertimbangan tertentu. “Kami menerbitkan buku yang kontroversial ini bukan karena kami suka, tapi kita akui bahwa di dunia ini ada orang-orang ‘gila’ yang tampil merubah dunia. Seperti Nicholaus Copernicus yang mengatakan bahwa Bumi lah yang mengitari Matahari, sedangkan pada saat itu Gereja mengatakan bahwa Matahari yang mengelilingi Bumi dengan alasan Bumi tempat kita hidup ini berperan sebagai pemimpin di Antariksa. Akibatnya Nicholaus dipenjara dan diasingkan sampai akhir hayatnya. Setelah tehnologi semakin maju dan membuktikan perkataan Nicholaus, keluarga kerajaan yang dulu menghukum Nicholaus mendapat malu sampai anak cucu. Selain itu Bpk Wandi juga mengutip ayat-ayat suci Al-Quran yang dikutip dari isi kata pengantar dari Prof. Komaruddin Hidayat. Dalam kata pengantarnya Prof. Komaruddin menjelaskan mengenai pengertian haram dan kaitannya dengan pohon ganja.

Dhira Narayana selaku ketua LGN dan penulis buku HPG melanjutkan acara dengan memperkenalkan organisasi LGN serta visi dan misinya. Perjuangan yang dilakukan LGN bertujuan untuk memanfaatkan tanaman ganja seluas-luasnya untuk kepentingan rakyat Indonesia. Salah satu misi LGN yaitu Edukasi. Dengan diterbitkannya buku HPG ini maka masyarakat Indonesia dapat teredukasi tentang pemanfaatan tanaman ganja. “Buku HPG ini unik, jika buku ini terbit di abad 18 dimana saat itu ganja masih legal, mungkin buku ini menjadi buku yang biasa-biasa saja. Tapi ketika buku ini terbit di abad ke 21, maka buku ini jadi sesuatu yang mengejutkan, ujar Dhira sambil lanjut ke pembedahan isi buku dari tiap bab.

Oleh karena ketidakhadiran narasumber, maka acara dilanjutkan Pandji dengan bercerita seputar ganja dalam balutan komedi. Pandji berkelakar mengenai kelakuan pengguna ganja dan disambut dengan tawa dari pengunjung. Dhira dan Pandji memimpin acara ini sampai selesai selama 2 jam. Dalam kesempatan itu di buka sesi tanya jawab langsung kepada hadirin. Pandji meminta pengunjung mengacungkan tangannya untuk bertanya.

Sesi Tanya Jawab
Penanya pertama bernama Ibe, ia bertanya, ”kenapa kalau kita membahas soal ganja, selalu yang dibicarakan tentang penggunaan ganja yang dihisap atau nyimeng?” Dhira menjawab, “Mungkin mereka tidak punya alasan lain utuk menjelek-jelekkan ganja”.

Kuntoro, koordinator Komunitas Kand Koed bertanya, “Sebelum tahun 1937 Ganja merupakan komoditi yang legal, tetapi setelah tahun 1961 menjadi ilegal.” Pertanyaan Kuntoro dijawab oleh Pandji dengan mengatakan bahwa Amerika dulu pada masa krisis ekonomi pernah mewajibkan petani di negaranya untuk menanam ganja dan setelah itu melarangnya dengan pertimbangan kesehatan. Sejarah pelarangan ganja dimulai di Amerika Serikat kemudian diikuti oleh dunia Internasional setelah Konvensi Tunggal PBB 1961. Dhira menyarankan, untuk mengetahui lebih lanjut mengenai sejarah ganja, silahkan baca buku HPG.

Kesempatan bertanya selanjutnya diberikan kepada  Karna Tiranda, namun kali ini bukan pertanyaan tetapi ia memberi masukkan tentang pentingnya pendidikan khusus mengenai ganja. Dhira mengatakan, dengan diterbitkannya buku HPG, pendidikan mengenai ganja dapat segera terlaksana.

Salah satu hadirin yang bernama Mochtar juga tidak bertanya namun ia mengusulkan untuk dibuat semacam diskusi yang membedah masalah pelarangan ganja menurut ketentuan UN Single Convention 1961.

Seorang mahasiswa bernama Apri bertanya. “Maukah LGN masuk ke kampus-kampus untuk menjelaskan semua ini ke mahasiwa? Efektifkah buku HPG ini untuk membuka mindset masyarakat? Dhira menjawab, “Buku ini belum terbukti efektif tidaknya dalam membuka mindset masyarakat karena buku ini baru saja terbit, jadi kita lihat saja nanti.” Mengenai tantangan yang diberikan Apri kepada LGN untuk mendatangi kampus-kampus, seluruh anggota LGN berkata siap untuk itu.

Iman, aktivis napza dari Gerakan Korban Napza Banten (GKNB) menanyakan kesiapan LGN dalam sisi advokasi terhadap pengguna ganja yang masih harus berhadapan dengan UU Narkotika. Banyak perlakuan yang tidak manusiawi pada saat petugas menangkap pengguna ganja. Ganja masuk ke dalam golongan 1 narkotika, bagaimana langkah LGN untuk mengeluarkan ganja dari golongan narkotika? Apakah dengan menggelar Juridisial Review UU Narkotika 2009? Sedangkan untuk itu harus ada syarat-syarat khusus seperti adanya desakan masyarakat. Dhira menjawab, LGN sekarang ini sedang dalam poses pembentukan team advokasi untuk mengatasi masalah para pengguna ganja yang kerap jadi korban akibat pasal-pasal dalam UU narkotika dan meminta pemerintah untuk segera mereformasi UU Narkotika di Indonesia.

Penanya terakhir datang dari seorang yang bernama Nirwanda, ia bertanya bagaimana cara LGN mengedukasi masyarakat mengenai produk-produk Hemp? Dhira menjawab, kami melakukan semua edukasi melalui website, brosur dan buku. Selama ini dengan menggunakan media-media seperti itu sosialisasi dan edukasi masyarakat mengenai Hemp dapat berjalan dengan efektif.

Sebelum menutup acara Dhira menambahkan, “negara kita harus berani bereksperimen dengan regulasi  untuk melawan perdagangan gelap ganja.”

Acara ditutup dengan pembagian buku HPG secara gratis kepada 3 penanya terbaik dan sesi foto LGN bersama anggota dan pengurus. (cpt)