Tag Archives: hukum

UMJ

Diskusi Publik: Ganja Dalam Berbagai Perspektif di Universitas Muhammadiyah Jakarta

Universitas Muhammadiyah Jakarta mengadakan acara diskusi publik yang berjudul Ganja Dalam Berbagai Perspektif di Fakultas Hukum UMJ. Acara berlangsung Selasa (27/03) jam 10:00 di Aula Fakultas Hukum UMJ Kampus A Ciputat, Jakarta. Diskusi ini dihadiri mahasiswa dan beberapa dosen/pengajar UMJ sebagai pembicara utama.

Diskusi Publik: Ganja Dalam Berbagai Perspektif di Universitas Muhammadiyah Jakarta

Salah satu pembicara yang seharusnya hadir pagi itu yakni Kasubdit Hukum BNN Bpk Supardi, SH., MH tidak datang, sehingga acara bedah buku tersebut berjalan tanpa ada perwakilan dari pemerintah. Akan tetapi bedah buku terus berjalan dan mahasiswa serta khalayak umum yang turut hadir pada hari itu tidak kecewa, mereka mendapatkan pengetahuan baru mengenai tanaman ganja.

Perang Terhadap Narkoba
Diskusi diawali oleh pembicara dari Muhammadiyah Dr.H.Syaiful Bachri, SH., MH. Beliau berbicara mengenai narkotika dari mulai jaman perang candu sampai narkotika pertama kali masuk ke Indonesia.

Di Indonesia, pemerintah melalui BNN mengobarkan perang terhadap narkoba. Perang ini terjadi diseluruh dunia yang didasari sebuah kesepakatan internasional. Amerika Serikat memerangi narkoba ke negara-negara pengekspor narkoba seperti negara-negara Amerika latin. Pablo Escobar, mafia narkoba  ditangkap dan dibunuh di negaranya sendiri oleh tentara AS.

Dr. Syaiful mengatakan, BNN memiliki keistimewaan khusus dalam menjalankan tugasnya. Mulai dari menyadap pembicaraan orang sampai menangkap pengedar narkoba. Tetapi BNN tidak punya kemampuan keuangan yang cukup, sebab semakin keras BNN bertindak, semakin keras mafia narkoba melawan, demikian perkataan Dr. Syaiful.

Ganja Menurut Pandangan Islam
Pembicara berikutnya dosen FH-UMJ Ibu Dr.Hj. Arofah Windiani,SH., M.hum. Ibu Arofah menjelaskan kepada hadirin tentang bahaya narkotika dan ganja. Beliau mengatakan, menurut Kitab Suci Al Quran, segala sesuatu yang memabukkan adalah haram atau terlarang. Ibu Arofah juga mengutip beberapa Ayat Al Quran untuk menguatkan argumentasinya: Surat An Nahl (16) ayat 67, Surat An Nisa (4) ayat 43 dan Surat Al Bakorah (2) ayat 219.

Dhira Narayana, S.Psi dan Dr.Hj. Arofah Windiani,SH., M.hum.

Ibu Arofah mengatakan bahwa ayat-ayat inilah yang menjelaskan mengenai bahaya Khamer yang memabukkan sehingga diharamkan. “Anggur dan Kurma merupakan buah yang baik tetapi kalau difermentasi menjadi minuman beralkohol menjadi berbahaya. Kita harus melihat manfaat dan mudaratnya ganja apabila dilegalkan penggunaannya. Tetapi soal memasukan ganja kedalam golongan narkotika, saya bukan ahlinya, ” demikian Ibu Arofah mengatakan.

Ganja Pohon Yang Bermanfaat
Pelarangan ganja secara ekstensif menimbulkan kontroversi. Di banyak negara di dunia gerakan yang menuntut legalisasi ganja terus tumbuh dan berkembang. Di Indonesia, perjuangan legalisasi ganja dimotori oleh organisasi Lingkar Ganja Nusantara yang dipimpin Dhira Narayana, S.Psi.

Dhira selaku ketua LGN memberi penjelasan dan pengetahuan tentang tanaman ganja dan konsep legalisasi ganja yang ditawarkan. “Selama ini peredaran ganja dikuasai pasar gelap narkoba. Penjualan ganja di pasar gelap sangat besar dan keuntungan yang amat besar itu jatuh ketangan para mafia dan kita tidak tahu kepada siapa saja ganja diedarkan para pengedar gelap ganja. Anak kecil pun bisa memperoleh ganja dipasar gelap, sebab bandar narkoba tidak akan menanyakan kartu identitas. Sedangkan jika kita melegalkan ganja dengan peraturan dan pengendalian, maka peredaran ganja bisa kita kuasai. Seperti yang sudah berlangsung di beberapa negara maju seperti Amerika Serikat, dimana masyarakat dapat memperoleh ganja melalui apotik ganja dengan menunjukkan surat keterangan dokter (Medical Marijuana Card).”

Eko Rasta Boy, Cipta Fourtwenty dan Alzian Catur Dwi Dasa

Menanggapi tentang status ganja yang diharamkan, Dhira mengatakan “saya heran mengapa manusia begitu hebatnya bisa mengharamkan sebuah pohon. Ganja merupakan tanaman yang bisa kita manfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, sayang jika disia-siakan.” Di bagian belakang aula, aktifis LGN menggelar beberapa contoh produk yang dihasilkan dari tanaman ganja di atas meja.

Bangsa Indonesia Belum Siap
Salah seorang dosen UMJ, Ibu Muyati Fauziah, Skm., M.kes mengutip data dari PBB tahun 2004. Estimasi konsumsi ganja di dunia mencapai 4% dari 167 juta populasi orang dewasa di dunia. Karena begitu maraknya peredaran gelap ganja, Ibu Mulyati khawatir akan bahaya penyalahgunaan jika ganja dilegalkan. Bangsa Indonesia belum siap, kecuali kalau penduduk Indonesia rata-rata sudah berpendidikan S2.

Ibu Muyati memaparkan hasil riset yang digunakan untuk melarang ganja. Dalam riset tersebut, kami (aktivis LGN) melihat banyak sekali hasil penelitian yang bertentangan dengan kenyataan dilapangan. Pengguna ganja yang dikatakan akan menjadi gila, bodoh dan malas tidak terbukti jika kita bertemu langsung dengan para pengguna ganja yang sebenarnya.

Sesi Tanya Jawab
Seorang mahasiswa UMJ turut berbicara dan bertanya dalam diskusi, ia mengatakan, “saya tidak setuju dengan ilegalnya ganja. Tetapi kalau ganja mau dilegalkan, seperti apa mekanismenya? Apakah ganja akan dijual secara umum di warung-warung atau nanti legal hanya untuk kepentingan dokter?

Dhira Narayana, S.Psi kembali menjelaskan bahwa legalisasi ganja akan mengatur peredaran ganja dan merebut pasar gelap ganja dari tangan mafia ke pemerintah. Ganja tidak akan dijual bebas seperti rokok dan pemerintah yang akan melakukan kontrol terhadap perdagangan ganja di Indonesia.

Diskusi dan Bedah Buku Hikayat Pohon Ganja
Acara diskusi publik seperti ini baik untuk mengedukasi masyarakat agar mengerti tentang permasalahan yang terjadi di Indonesia terkait pelarangan ganja dalam UU Narkotika. Dengan menggelar diskusi tentang ganja atau membedah buku HPG di kampus-kampus maka kita dapat membuka mata mahasiswa dan masyarakat akan manfaat tanaman ganja.

Bagi mahasiswa di seluruh Indonesia yang tertarik ingin membuka diskusi tentang pohon ganja di kampus atau menyusun makalah yang berhubungan dengan ganja, aktifis LGN siap memberikan layanan berupa informasi dan buku-buku ilmiah yang terkait tanaman ganja. LGN siap diundang untuk menjadi narasumber dari buku Hikayat Pohon Ganja. Untuk itu silahkan koordinasikan langsung ke kantor sekretariat LGN atau melalui email: dhira@legalisasiganja.com (cpt)

Hukum

Perbedaan Hukum Kepemilikan Ganja

Secara yurisdis kebijakan hukum kepemilikan dan penggunaan ganja di seluruh dunia sangat bervariasi di tiap negara. Beberapa negara di dunia sudah melegalkan penggunaan ganja untuk keperluan medis atau sudah menerapkan peraturan dekriminalisasi kepemilikan ganja dalam jumlah tertentu (sedikit) untuk penggunaan pribadi. Di negara-negara yang masih menerapkan hukuman bagi orang yang memiliki atau menggunakan ganja umumnya menentukan beratnya hukuman dari jumlah barang bukti yang disita polisi.

Secara umum, sistem peradilan di sebagian besar negara di dunia mengkategorikan tuduhan kepemilikan ganja sebagai suatu kejahatan ringan atau bisa menjadi kejahatan yang lebih serius. Di banyak negara, kepemilikan sejumlah kecil ganja dibebankan sebagai kejahatan ringan. Jumlah kepemilikan yang besar yang kemungkinan ditujukan untuk dijual dibebankan sebagai tindak pidana berat.

Di sejumlah negara, kepemilikan ganja dalam jumlah kecil sudah di dekriminalisasi. Pengertian dekriminalisasi yaitu tuntutan hukum atas kepemilikan, dalam arti pidana, tidak akan berlaku untuk orang yang tertangkap memiliki ganja dalam jumlah yang kecil untuk penggunaan pribadi. Negara-negara seperti Uruguay, Swiss, Israel, dan Meksiko sudah menerapkan peraturan dekriminalisasi kepemilikan ganja dalam jumlah kecil untuk penggunaan pribadi. Di beberapa negara lain, walaupun secara teknis ilegal, penggunaan ganja untuk tujuan rekreasi dapat diterima secara luas oleh masyarakat dan jarang dihukum. Costa Rica, Kamboja, dan Iran adalah contoh negara yang mana ganja, meskipun ilegal, dapat dijual dan dikonsumsi secara terbuka tanpa risiko penuntutan.

Amerika Serikat
Penggunaan ganja untuk keperluan pengobatan diperbolehkan di beberapa negara bagian. Di Amerika Serikat, 16 negara bagian telah mengizinkan penggunaan ganja sebagai obat-obatan dan 12 negara telah menerapkan dekriminalisasi untuk penggunaan pribadi dalam jumlah yang kecil. Akan tetapi, jika seseorang ditemukan memiliki ganja dalam  jumlah yang lebih besar, atau tertangkap di wilayah negara bagian yang belum menetapkan peraturan dekriminalisasi, maka tuntutan hukum atas kepemilikan ganja dapat diberlakukan. Perbedaan antara pelanggaran dan kejahatan bervariasi di tiap negara bagian, namun kepemilikan ganja sejumlah lebih dari 1 ons (lebih dari 28 gram) adalah standar umum untuk dekriminalisasi.

Beratnya hukuman atas kepemilikan ganja berbeda-beda diseluruh dunia. Di wilayah Amerika Serikat, pelanggaran atas kepemilikan ganja umumnya diancam hukuman penjara selama satu tahun atau kurang, dan jika dipastikan melakukan kejahatan berat akan dikenakan hukuman lebih dari satu tahun. Di kebanyakan negara, hukuman atas kepemilikan ganja lebih ringan dibandingkan narkotika jenis lain yang lebih berat. Namun, di beberapa negara seperti Hungaria, tidak ada perbedaan antara kepemilikan ganja dan kepemilikan zat atau narkotika lain yang peredarannya dikendalikan secara serius seperti heroin.

Indonesia
Di Indonesia hukum kepemilikan dan penggunaan ganja di atur dalam UU Narkotika 2009. Di Indonesia ganja masuk kedalam golongan I narkotika, sama seperti heroin dan cocaine. Pelanggaran atas UU tersebut dapat dikenakan hukuman atara 4 sampai 12 tahun penjara atau lebih. Walaupun pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan rehabilitasi, namun praktek dilapangan sering kali berbeda. Hukuman penjara bagi orang yang kedapatan memiliki atau menggunakan narkotika lebih sering dikenakan daripada rehabilitasi.

Di Indonesia, narkotika digolongkan kedalam 3 golongan. Sebagaimana tertulis dalam UU narkotika 2009 pasal 8 ayat 1 yang berbunyi; “Narkotika Golongan I dilarang digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan.” Artinya, sebagai bagian dari golongan I narkotika, ganja di Indonesia sama sekali tidak diperbolehkan untuk keperluan pengobatan.

Hukum kepemilikan ganja di Indonesia masih sangat tertinggal dibandingkan dengan negara-negara maju di benua Eropa. Penggolongan narkotika di Indonesia dalam UU narkotika termasuk penerapan hukum atas kepemilikan ganja tidak pernah memperhatikan dampak buruk dari pelaksanaannya di masyarakat. Di banyak negara, ganja sudah dikategorikan sebagai narkotika ringan (soft drug) dan dibedakan golongannya dengan heroin dan cocaine yang masuk kedalam kategori narkotika berat (hard drugs). Kepemilikan ganja di Indonesia disebut sebagai pelanggaran berat dan dikenakan sanksi pidana penjara. (cpt)

Canada

Ontario – Hukum Marijuana Inkonstitusional

Hakim pengadilan tinggi Ontario Canada akhirnya memutuskan bahwa program medical marijuana (ganja medis) di tingkat federal tidak konstitusional. Pemerintah memberi waktu tiga bulan untuk memperbaiki masalah ini sebelum legalisasi ganja secara efektif disahkan.

Dalam putusannya tanggal 11 April 2011, hakim Donald Taliano mengungkapkan kenyataan bahwa seluruh dokter di negara itu telah memboikot total program ganja medis dan sebagian besar menolak untuk menandatangani surat izin pada pasien untuk mengakses obat-obatan yang berhubungan dengan ganja medis yang mereka perlukan.

Akibatnya, orang sakit tidak dapat mengakses ganja medis secara sah melalui cara yang tepat dan tindakan mereka dianggap ilegal.

Penolakan besar para dokter untuk berpartisipasi dalam program ganja medis sepenuhnya mengurangi efektivitas program, tulis hakim dalam putusan itu.

Akibat dari putusan tersebut setiap orang sakit yang membutuhkan ganja untuk mengobati penyakitnya dicap sebagai penjahat hanya karena mereka tidak mampu untuk mengakses hukum yang ditetapkan oleh legislatif.

Taliano menyatakan bahwa program ganja medis tidak valid, sebab hukum pidana masih melarang kepemilikan dan produksi ganja. Ia menunda putusan tersebut selama tiga bulan untuk memberikan kesempatan kepada negara bagian Ottawa tersebut untuk memperbaiki program sampai pertengahan Juli atau kemungkinan diberlakukannya legalisasi kepemilikan dan produksi ganja.

Keputusan hakim itu bermula dari kasus pidana yang melibatkan Matthew Mernagh 37, seorang warga dari St Catharines yang menderita fibromyalgia, scoliosis, kejang dan depresi.

Medical Marijuana adalah pengobatan yang paling efektif bagi Mernagh untuk menghilangkan rasa nyeri. Tapi meskipun ia telah berusaha bertahun-tahun, ia tetap tidak dapat menemukan dokter yang bersedia mendukung aplikasi nya untuk mendapatkan lisensi mariyuana medis.

Mernagh terpaksa menanam ganja sendiri untuk memenuhi kebutuhan medisnya dan akhirnya di dakwa atas pelanggaran hukum produksi obat-obatan.

Pada dasarnya Taliano di tunjuk oleh para dokter untuk bertindak sebagai penjaga gerbang program ganja medis tetapi sayangnya ia tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk memberi saran atau merekomendasikan obat-obatan. Ia juga melihat bahwa departemen kesehatan Canada telah membuat keputusan tanpa didasari pengetahuan dan dasar pemikiran yang kuat.

Taliano mengatakan masalah ini adalah isu besar di Canada.
Dua puluh satu orang pasien dari seluruh negara bersaksi dalam kasus ini, mereka mengatakan telah ditolak oleh dokter sebanyak 113 kali.

Seorang pasien bernama Alberta ditolak oleh 26 orang dokter. Di Vancouver sekitar 37 dokter tanpa alasan yang jelas menolak menandatangani formulir permohonan ganja medis.

Pasien juga menghadapi penundaan yang panjang selama sembilan bulan untuk dapat memiliki aplikasi ganja medis oleh dinas kesehatan Canada.

Keterangan langsung dari Matthew Mernagh dan saksi-saksi lain menguatkan tuntutan itu. Taliano mengatakan, “Bukti dari saksi pasien yang saya terima membuktikan bahwa selama ini pasien harus melalui perjalanan yang panjang dan luar biasa sulitnya untuk bisa mendapatkan ganja yang mereka butuhkan.”

Pengacara Alan Young, yakni seorang advokat senior legalisasi ganja mengatakan, putusan tersebut merupakan langkah ke arah yang benar.

“Ini penting karena ini adalah putusan Pengadilan Tinggi yang memiliki pengaruh mengikat di seluruh propinsi,” kata Young.

“Dengan memberlakukan program medis yang disfungsional pemerintah kini harus membayar biaya tinggi dan kehilangan kewenangan konstitusional untuk mengkriminalisasi ganja.”

Dia mengatakan bahwa pengujian yang sebenarnya, bagaimanapun juga akan membuktikan apakah putusan hakim dapat ditegakkan di Pengadilan Tinggi Ontario.

“Jika pemerintah tidak berhasil banding, mereka akan terjebak di antara batu dan tempat yang keras karena mereka tidak memiliki rencana program alternatif ,” katanya. “Mereka tidak memiliki rencana B dan mereka dalam kesulitan.”

Profesi medis telah mewaspadai program mariyuana medis sejak di mulai pada bulan Agustus 2001.

Pada tanggal 7 Mei 2001, Canadian Medical Association menulis surat kepada menteri kesehatan federal untuk merekomendasikan ganja medis yang telah memiliki bukti ilmiah dapat bermanfaat untuk pengobatan.

Menurut isi surat tersebut dokter tidak boleh bertindak sebagai gatekeeper untuk terapi ini, hal ini menjadi perhatian bagi depatemen kesehatan Canada. (cpt)

Masa Depanku Terhambat.

Saya telah menggunakan ganja sejak saya berumur 12 Tahun. Hingga saat ini sudah 16 tahun kehidupan saya berjalan dengan hobby menghisap ganja. Dalam kurun waktu 16 tahun itupun sempat beberapa kali saya memutuskan untuk berhenti mengganja, dan waktu terpanjang saya stop menggunakan ganja adalah 1 Tahun. Perlu di garis bawahi bahwa saya sempat berhenti mengganja bukan karena saya merasakan dampak buruk yang terjadi pada diri saya, namun karena Ayah saya yang sangat membenci barang yang dia bilang haram itu. Sedangkan Ibu saya yang sangat ketakutan apabila saya terjerat hukum karena menggunakan ganja, di luar itu Beliau tidak melihat sesuatu yang buruk pada saya setelah saya menggunakan ganja. Sangat disayangkan apa yang ditakutkan oleh Ibu pun terjadi pada saya, dan saya mendekam di dalam penjara selama 6 bulan.

Saya merupakan orang yang menyukai suasana yang sunyi, dan saya termasuk orang yang ber-prestasi dalam bidang pekerjaan saya. Berawal dari sebuah hobby pada saat kuliah saya membuka jasa Photography di kota tempat tinggal saya. Skill yang saya miliki terus bertambah, setiap “order” yang saya kerjakan menjadi pembelajaran bagi diri saya. Saya sangat menikmati hari-hari yang saya jalani. Pada saat semua urusan pekerjaan selesai, seringkali saya duduk santai di halaman depan menikmati ganja sebagai hiburan yang istimewa. Ditemani seorang teman berbincang-bincang tentang berbagai hal. Teman saya tidak menggunakan ganja, namun dia tidak memiliki masalah dengan pengguna ganja, dia berasumsi bahwa alkohol jauh sekali lebih berbahaya daripada ganja, dan menurutnya alkohol seringkali mengundang keributan.

Bisnis sayapun berjalan lancar. “Order” berdatangan, dan mereka mengatakan puas dengan hasil pekerjaan saya. Saya sangat ber-ambisi untuk menjadi orang yang sukses, dapat memiliki segala sesuatu yang saya inginkan merupakan cita-cita untuk saya. Senang rasanya bisnis saya berjalan lancar, saya telah melihat sedikit perjalanan karir saya menuju sukses dalam dunia pekerjaan.

Pada satu hari, saya sangat terkejut karena 6 orang polisi yang datang ke kantor saya dengan membawa surat penangkapan untuk saya. Polisipun mengatakan bahwa ada laporan dari warga sekitar yang menyatakan resah dengan ulah saya. ULAH? apa yang sudah saya lakukan? hingga mereka resah? itu semua omong kosong.

Singkat cerita sayapun tidak bisa “damai” dengan para polisi, dan sayapun mendekam di dalam penjara. Selama saya berada dalam penjara saya trus berpikir bagaimana tentang bisnis saya, apakah teman2 team saya sanggup mengerjakan pekerjaan2 yang telah masuk dalam schedule, apakah mereka bisa kompak bekerja sama untuk menyelesaikan pekerjaan? akhhh.. cukup stres saya memikirkan pekerjaan saya ditambah teman2 di dalam penjara yang mengenaskan, sungguh semuanya hanya berlaku apabila kita memiliki “uang”.

6 bulan sudah waktu terlewati, dan saya pun bebas dari dalam penjara. Senang rasanya menghirup udara segar, dan saya siap untuk besosialisasi kembali sebagai seorang manusia seutuhnya. Pertama yang ada dalam benak saya adalah mendatangi kantor saya, dan sayapun berbincang bincang dengan team. Sesak dada ini, ternyata bisnis saya bisa dibilang hancur. Team yang saya bangun tidak memiliki kerjasama yang baik, entah apa sebabnya saya tidak mau menyalahkan orang. Seorang marketing saya pun meninggalkan saya dengan membawa lari uang yang bukan haknya.

Bisnis saya HANCUR, dan saya harus memulainya kembali dari awal.

APABILA SAYA TIDAK DIPENJARA, APAKAH MASA DEPAN SAYA AKAN TERHAMBAT??
SILAHKAN TEMAN-TEMAN MENILAI, APA SEBENARNYA YANG MENGHAMBAT MASA DEPAN SAYA. GANJA ATAU HUKUM DARI GANJA ITU SENDIRI!

TETESAN AIR MATA UNTUK TEMAN2 YANG SEHARUSNYA TIDAK BERADA DI DALAM BUI.

Satu Rasa Satu Cinta, Kita ini Satu!

Anonym, Bandung